PROFIL EKSKLUSIF
Uzhe Phriatzna: Dari Bandung, Menyuarakan Cerita Lewat Musik
Pop menjadi rumahnya. Namun bagi Uzhe Phriatzna, musik tidak pernah harus tinggal di satu ruangan. Dari rap, disco/dance, hingga bahasa Sunda, ia terus mencari cara untuk menerjemahkan cerita menjadi bunyi.
Ada musisi yang memilih satu warna lalu menjadikannya identitas. Ada pula yang justru menemukan identitasnya melalui keberanian untuk menjelajah.
Uzhe Phriatzna berada di antara keduanya.
Lahir di Bandung, kota yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan musik dan industri kreatif Indonesia, Uzhe kemudian menjalani kehidupannya di Bogor. Dua kota yang berbeda karakter tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang artis dan musisi yang terus mengekspresikan dirinya melalui karya.
Bagi Uzhe, musik bukan hanya perkara genre.
Musik adalah cerita.
Dan setiap cerita membutuhkan cara penyampaian yang berbeda.
Itulah yang membuat perjalanan musikal Uzhe Phriatzna menarik untuk disimak.
Pop sebagai Rumah, Eksperimen sebagai Jalan
Secara umum, musik Uzhe berada dalam wilayah pop.
Namun, menyebutnya hanya sebagai musisi pop terasa belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan warna karyanya.
Dalam perjalanan bermusiknya, Uzhe juga mengeksplorasi rap, disco/dance, serta menghadirkan karya dengan bahasa Sunda.
Keragaman tersebut memperlihatkan pendekatan yang cukup terbuka terhadap musik. Genre tidak diperlakukan sebagai pagar, melainkan sebagai kemungkinan.
Ketika sebuah lagu membutuhkan energi ritmis, rap dapat menjadi pilihan. Ketika suasana membutuhkan gerakan dan groove, unsur disco/dance dapat masuk. Dan ketika sebuah cerita terasa lebih dekat disampaikan menggunakan bahasa daerah, bahasa Sunda menjadi bagian dari ekspresi.
Pada akhirnya, semua kembali kepada satu hal: cerita yang ingin disampaikan.
“Budak Teh Beuki Kurupuk”: Ketika Lokal Menjadi Universal
Salah satu karya yang menonjol dari katalog Uzhe adalah “Budak Teh Beuki Kurupuk”.
Judulnya sendiri sudah membawa identitas yang kuat.
Penggunaan bahasa Sunda memberikan karakter lokal yang sulit dipisahkan dari karya tersebut. Namun, justru di situlah daya tariknya. Di tengah industri musik yang semakin global, bahasa daerah dapat menjadi kekuatan yang membuat sebuah karya memiliki kepribadian.
Bahasa Sunda bukan sekadar pilihan kata.
Ia membawa suasana, humor, kedekatan, dan identitas budaya.
Ketika kemudian ditempatkan dalam medium musik populer, unsur lokal tersebut dapat menemukan pendengar dari generasi yang lebih luas.
Karya seperti ini juga memperlihatkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan akar budaya.
Justru sebaliknya.
Identitas lokal dapat menjadi bahan bakar kreativitas untuk melahirkan sesuatu yang segar.
“Oh Sella” dan Wajah Pop Uzhe
Berbeda warna dengan “Budak Teh Beuki Kurupuk”, “Oh Sella” memperlihatkan sisi lain dari musikalitas Uzhe.
Pop memberikan ruang yang luas untuk bermain dengan melodi dan cerita. Genre ini juga memiliki kemampuan untuk menjembatani berbagai karakter pendengar.
Di tangan seorang musisi, pop dapat menjadi sederhana sekaligus kompleks.
Sederhana karena mudah diterima. Kompleks karena di balik kesederhanaan tersebut terdapat pilihan aransemen, lirik, melodi, ritme, dan karakter vokal yang menentukan apakah sebuah lagu memiliki daya tinggal atau tidak.
“Oh Sella” menjadi salah satu bagian dari perjalanan Uzhe dalam membangun warna tersebut.
“Dinding Iman”: Musik yang Mengajak Merenung
Musik Uzhe juga tidak berhenti pada cerita hiburan dan relasi antarmanusia.
Ada karya seperti “Dinding Iman” yang membawa nuansa berbeda.
Judul tersebut memberi kesan reflektif—tentang keyakinan, batas, perjalanan batin, dan bagaimana seseorang menghadapi berbagai hal dalam kehidupannya.
Di sinilah musik dapat mengambil fungsi yang lebih luas.
Sebuah lagu tidak selalu harus membuat pendengar berdansa atau bernyanyi bersama. Kadang sebuah lagu hadir untuk membuat seseorang berhenti sejenak.
Mendengarkan.
Mengingat.
Kemudian merenung.
“Kembalilah”: Ketika Kerinduan Menjadi Lagu
Kemudian ada “Kembalilah”.
Kata tersebut sederhana, tetapi memiliki muatan emosional yang kuat.
“Pulang” dan “kembali” adalah tema yang hampir selalu memiliki tempat dalam musik. Ada kerinduan di dalamnya. Ada kehilangan. Ada harapan. Dan terkadang ada sesuatu yang belum selesai.
Kekuatan sebuah lagu bertema seperti ini terletak pada kemampuannya membuat pendengar memasukkan pengalaman mereka sendiri ke dalam cerita.
Bisa jadi tentang pasangan.
Bisa tentang seseorang yang telah pergi.
Bisa pula tentang masa lalu yang ingin diulang.
Karena itu, ketika sebuah lagu berhasil menyentuh pengalaman personal pendengarnya, karya tersebut tidak lagi sepenuhnya menjadi milik penciptanya.
Ia menjadi milik siapa pun yang merasa terwakili olehnya.
Seorang Musisi di Tengah Ledakan Era Digital
Ada perubahan besar dalam cara musik diproduksi dan dikonsumsi.
Dahulu, seorang musisi membutuhkan industri rekaman besar, distribusi fisik, radio, televisi, dan berbagai jalur konvensional untuk menjangkau pendengar.
Kini, dunia telah berubah.
Musisi dapat membangun jalannya sendiri.
Internet dan platform digital memungkinkan sebuah lagu dipublikasikan kepada audiens yang jauh lebih luas. Pendengar tidak harus berada di kota yang sama. Bahkan tidak harus berada di negara yang sama.
Bagi Uzhe Phriatzna, kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan.
Peluangnya adalah kebebasan.
Tantangannya adalah persaingan.
Setiap hari, ribuan karya baru muncul. Perhatian publik menjadi sesuatu yang sangat mahal. Sebuah lagu harus mampu menemukan jalannya sendiri di tengah derasnya arus konten.
Karena itu, karakter menjadi penting.
Dan karakter tidak dapat dibangun hanya dalam satu malam.
Bandung yang Menjadi Titik Awal
Ada sesuatu yang menarik dari Bandung sebagai tempat kelahiran seorang musisi.
Kota ini telah lama dikenal sebagai salah satu ekosistem kreatif Indonesia. Musik, seni visual, desain, fashion, komunitas, dan berbagai bentuk ekspresi budaya tumbuh berdampingan.
Bagi Uzhe, Bandung menjadi titik awal perjalanan hidup.
Namun perjalanan kemudian membawanya ke Bogor.
Kini, Bogor menjadi bagian dari kehidupan dan aktivitas kreatifnya.
Dua kota tersebut secara tidak langsung menjadi bagian dari cerita Uzhe: Bandung sebagai tempat kelahiran dan Bogor sebagai ruang tempat perjalanan berikutnya berlangsung.
Tidak Terjebak dalam Satu Kotak
Mungkin inilah salah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan musik Uzhe Phriatzna:
eksplorasi.
Ia tidak berhenti pada pop.
Ia memberi ruang bagi rap.
Ia menyentuh disco/dance.
Ia menggunakan bahasa Sunda.
Dan pada saat yang sama, ia tetap membangun identitas sebagai seorang musisi.
Eksplorasi tersebut penting karena musik selalu berkembang.
Genre yang dahulu dianggap terpisah kini dapat bertemu dalam satu karya. Musik lokal dapat berdampingan dengan pendekatan modern. Unsur dance dapat muncul dalam lagu pop. Rap dapat menjadi bagian dari sebuah komposisi yang sebelumnya tidak identik dengan hip-hop.
Batas-batas tersebut semakin cair.
Dan musisi memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri seberapa jauh mereka ingin menjelajah.
Bukan Hanya Tentang Lagu
Perjalanan Uzhe Phriatzna pada akhirnya bukan hanya tentang daftar judul lagu.
“Budak Teh Beuki Kurupuk”, “Oh Sella”, “Dinding Iman”, dan “Kembalilah” merupakan bagian-bagian dari sebuah perjalanan yang lebih panjang.
Setiap lagu membawa warna.
Setiap genre membuka pintu berbeda.
Dan setiap karya menambah satu bagian baru pada identitas musikalnya.
Bagi seorang musisi, katalog karya pada akhirnya menjadi semacam arsip perjalanan hidup.
Ketika didengarkan kembali beberapa tahun kemudian, sebuah lagu tidak hanya mengingatkan pendengar pada melodinya. Ia juga dapat mengingatkan pada sebuah masa, sebuah perasaan, atau sebuah fase kehidupan.
Di situlah musik memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak bentuk hiburan lainnya.
Menunggu Bab Berikutnya
Perjalanan Uzhe Phriatzna masih jauh dari selesai.
Justru menarik untuk melihat ke mana eksplorasi berikutnya akan membawanya.
Apakah tetap berada di jalur pop?
Apakah akan semakin jauh mengeksplorasi rap dan dance?
Ataukah kembali menggali kekayaan bahasa dan budaya Sunda?
Jawabannya mungkin akan hadir melalui karya-karya berikutnya.
Yang jelas, Uzhe telah menunjukkan bahwa seorang musisi tidak harus memilih satu warna untuk sepanjang perjalanan.
Ia dapat berubah.
Ia dapat bereksperimen.
Ia dapat mencoba kembali.
Sebab musik, seperti kehidupan, tidak pernah benar-benar diam.
EPILOG
Dari Bandung menuju Bogor.
Dari pop menuju rap, disco/dance, dan bahasa Sunda.
Dari satu lagu menuju lagu berikutnya.
Perjalanan Uzhe Phriatzna adalah perjalanan seorang artis yang masih terus mencari, mencoba, dan menciptakan.
Dan mungkin justru di situlah daya tarik terbesarnya.
Bukan karena ia telah menemukan akhir dari perjalanan, tetapi karena ia masih terus berjalan.
Sebab selama masih ada cerita yang ingin disampaikan, selalu ada lagu yang bisa dilahirkan.
.png)
.png)
.png)
.png)




